BAB III
PEMBAHASAN
A. Sejarah Tari Bedhaya Angron Sekar
Tari klasik putri gaya Yogyakarta yang paling tinggi tingkatannya adalah tari Bedhaya, yaitu salah satu bentuk budaya kraton yang dilatar belakangi oleh konsep kenegaraan raja. Pengembangan budaya kraton pada dasarnya merupakan usaha untuk memperkuat dan mempertinggi kemulyaan guna memperkokoh kekuasaan raja hingga pada keturunannya. Kata Bedhaya diambil dari bahasa sansekerta, yaitu budha yang berarti awal, wiwitan atau suci. Sedangkan dalam bahasa Jawa Bedhaya berasal dari kata beda ( ) yang artinya berbeda dan ya ( ) yang melambangkan angka 9 pada aksara jawa. Tari Bedhaya merupakan bentuk tari putri kelompok yang dilakukan oleh sembilan orang penari dengan menggunakan tata busana dan rias wajah serta tata rambut yang sama. Namun, masing-masing penari membawakan peran dan nama yang berbeda-beda, yaitu: Endel, Batak, Gulu, Dhadha, Endhel Wedhalan Ngajeng, Endhel Wedhalan wingking, Apit Wingking, Apit Ngajeng, Buntil.
Tari Bedhaya Angron Sekar diciptakan pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono ke IX yaitu pada tahun 1957 (catatan tari Romo Sasmita Mardawa: 27 November 1957). Nama tarian ini (Angron Sekar) diambil dari nama tokoh utama dalam cerita tarian tersebut yaitu Dewi Angron Sekar. Tarian ini menceritakan tentang pembalasan dendam Dewi Angron Sekar kepada Raden Sutawijaya yang telah membunuh suaminya yaitu Pangeran Arya Penangsang. Sampai akhirnya Dewi Angron Sekar kalah dan diperistri oleh Raden Sutawijaya. Fungsi diciptakannya tarian ini adalah untuk upacara Tingalan Dalem yaitu upacara untuk memperingati ulang tahun raja pada tahun . Dalam upacara tersebut tari Bedhaya Angron Sekar digunakan sebagai hiburan bagi semua warga yang hadir.
Tarian ini pernah mengalami masa kejayaan selama masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono IX. Namun seiring dengan bergantinya raja, tarian ini sudah jarang dipentaskan tepatnya lebih dari 20 tahun silam. Hal itu dikarenakan tarian tersebut hanya digunakan untuk satu kali upacara Tingalan Dalem. Setelah itu tidak lagi dipentaskan pada upacara Tingalan Dalem berikutnya, karena telah diciptakan tarian yang baru. Sehingga Tari Bedhaya Angron Sekar sudah tidak lagi dipentaskan pada Upacara Tingalan Dalem dan acara – acara lain di keraton.
Pada tahun 2006 tarian ini telah dipentaskan kembali untuk direkonstruksi sehingga sudah mengalami perubahan dari bentuk aslinya. Perubahan tersebut terletak pada pemadatan ragam gerak dan perpendekan waktu pementasan.
Read the rest of this entry »